Balaikota Malang (Foto: Maseo)

Kabarmlg.com – Kota Malang banyak orang yang mengartikan dengan arti sial/nasib buruk. Dengan semboyan Kota Malang sebelumnya yang dipakai oleh pemerintah kolonial yaitu ‘Malang Nominor Sursum Moveor’ yang artinya Malang Namaku, Maju Tujuanku. Semboyan tersebut  mengacu pada makna kota Malang sebagai nasib yang kurang baik. Lambang kota Malang pada tahun 1914 berbentuk sebuah perisai dengan mahkota yang dibawa oleh dua ekor singa. Kaki singa berdiri di atas pita yang bertuliskan semboyan ‘Malang Nominor Sursum Moveor’.

Kota Malang didirikan pada zaman Belanda ini telah mengalami berbagai peristiwa penting, mulai dari pembangunan kota secara besar-besaran oleh Pemerintah Penjajahan Belanda. Kota yang didirikan pada 1 April 1914 sebagai kotapraja, dengan asal usul penamaan Malang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Menurut Wikipedia, nama ‘Malang’ muncul pertama kali pada Prasasti Pamotoh/Ukirnegara (1120 Saka/1198 Masehi) yang ditemukan pada tanggal 11 Januari 1975 oleh seorang administrator perkebunan Bantaran di WlingiKabupaten Blitar.

Malang di sini merujuk pada sebuah daerah di timur Gunung Kawi. Hipotesis pertama merujuk pada nama sebuah bangunan suci bernama Malangkuçeçwara. Para ahli masih belum memperoleh kesepakatan di mana bangunan tersebut berada. Di satu sisi, ada sejumlah ahli yang menyebutkan bahwa bangunan Malangkuçeçwara terletak di daerah Gunung Buring. Pihak yang lain di sisi lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci tersebut terdapat di daerah TumpangKabupaten Malang. Di daerah tersebut, terdapat sebuah desa bernama Malangsuka, yang menurut para ahli sejarah berasal dari kata Malangkuça.

Pendapat ini diperkuat oleh keberadaan peninggalan-peninggalan kuno di sekitar Tumpang seperti Candi Jago dan Candi Kidal yang merupakan wilayah Kerajaan Singhasari. Nama Malangkuçeçwara terdiri atas 3 kata, yakni Mala yang berarti kebatilan, kecurangan, kepalsuan, dan kejahatan. Angkuça yang berarti menghancurkan atau membinasakan, dan Içwara yang berarti Tuhan. Dan arti darivMalangkuçeçwara berarti ‘Tuhan telah menghancurkan yang batil’.

Hipotesis kedua merujuk sebuah kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram ke Malang pada 1614 yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Menurut cerita rakyat, terdapat sebuah percakapan antara Tumenggung Alap-Alap dengan salah satu pembantunya mengenai kondisi wilayah Malang sebelum penyerangan dimulai. Pembantu dari Tumenggung Alap-Alap tersebut menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang menghalang-halangi (malang)) kedatangan dari pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah tersebut Malang.

Reporter & Editor : Admin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here