patjarmerah (baca: pacar merah) festival kecil literasi dan pasar buku keliling hadir di Eks. Bioskop Kelud Kota Malang. Dengan tema toleransi merawat Indonesia, patjarmerah hadirkan ragam acara literasi serta pasar buku berdiskon hingga 80%. Inisiator acara, Windy Ariestanty dan Irwan Bajang, menggelar acara ini untuk meratakan akses minat baca serta mengedukasi masyarakat tentang literasi.

patjarmerah di eks. Bioskop Kelud

Para inisiator berprinsip bahwa berliterasi untuk menemukan bacaan tidak harus di tempat mewah. Lokasi yang sederhana dan tidak terduga seperti gedung tua Bioskop Kelud pun bisa disulap menjadi tempatnya. Festival patjarmerah menyasar khalayak umum mulai dari anak sekolah, remaja, sampai dengan orang tua. Buku-buku yang dijual di sana beragam jenisnya, mulai dari novel fiksi, edukasi, agama, sejarah, buku indie hingga buku lawasan pun tersedia di sana.

patjarmerah Kota Malang.

Tidak hanya menghadirkan pasar buku berdiskon, acara yang akan berlangsung selama 9 hari itu (27 Juli-4 Agustus) juga menghadirkan rangkaian lokakarya patjar dan obrolan patjar. Lokakarya seperti  halnya teknik penulisan dan penerbitan menghadirkan beragam tokoh ahli di bidangnya. Hadir juga beberapa penulis terkenal dalam acara tersebut, seperti Bernard Batubara, Alexander Thian, Syahid Muhammad dan Stefani Bella, serta banyak penulis kondang lokal maupun nasional lainnya.

Menurut Putri Mayangsari, selaku head of sponsorship patjarmerah, lokakarya patjar diselenggarkan sebagai wadah untuk meningkatkan kreativitas kepenulisan. Sedangkan obrolan patjar merupakan wadah untuk diskusi dan berbincang dengan tokoh dalam dunia kepenulisan. “Acara dalam obrolan patcar ringan dan interaktif, jadi merupakan ajang yang pas untuk diskusi”, jelasnya.

Suasana di patjarmerah.

Animo masyarakat untuk patjarmerah cukup tinggi, acara ini mendapatkan respon positif khususnya dari anak muda Kota Malang. Terhitung pada hari pertama dan kedua acara ini diselenggarakan, sekitar 7.000 pengunjung yang datang. “Malang luar biasa, memberi sambutan kehangatan bagi festival ini”, ungkap Putri.

Salah satu pengunjung, Okta, menuturkan, “acaranya seru sih, bukunya murah-murah, sering-sering aja sih ke depannya diselenggarakan acara seperti ini.” Hal senada diungkapkan Nizar Hilmi, “menarik sih, acaranya juga cukup progresif dengan hadirnya anak-anak SMA yang datang. Untuk selanjutnya bisa lebih diperbanyak saja varian bukunya.”

Pasar buku patjarmerah.

Salain itu, Putri Mayangsari juga menambahkan, bahwa sesuai dengan tema toleransi yang diangkat oleh patjarmerah. Besar harapan agar semua khalayak dapat lebih bijak lagi dalam menanggapi dunia literasi. Karena literasi tidak hanya tentang tulisan, tapi banyak juga melalui berbagai media. “Ayo, kita sama-sama sadar memaknai toleransi, karena kesadaran akan hal itu cakupannya cukup luas”, pungkasnya. 

Reporter & Fotografer: Denny
Editor: Rizka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here