Perjalanan musik dunia akan terus menoreh sejarah untuk tetap dapat dinikmati dan dikenang oleh setiap generasi. Musik, hal yang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Musik menjadi bagian dari jiwa, bahkan bisa jadi salah satu penentu jati diri yang menggambarkan “aku banget!”.

            Bukan hanya dinikmati lalu dilupakan begitu saja ketika genre musik terus berganti masa hits-nya, bergantung pada selera penikmatnya. Musik beserta instrumennya juga perlu diabadikan sebagai mahakarya bukti sejarah perjalanan industri musik dunia. Seperti sebuah museum musik di kota Malang yang mengapresiasi karya-karya musik Indonesia dengan mengumpulkan di suatu tempat untuk dirawat dan dipamerkan kepada para penikmat musik, Museum Musik Indonesia. Satu-satunya museum musik serta pertama kalinya di Indonesia.

Berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan No.19, sebuah ruangan yang cukup luas menjadi tempat menyimpan berbagai koleksi karya musik Indonesia maupun mancanegara. Menjejakkan kaki ke dalam akan terlihat pajangan piringan-piringan hitam, kaset dan CD berbagai tembang lawas dari penyanyi Indonesia mulai dari era 50-an. Ada juga koleksi rekaman dari mancangera yang lebih lawas lagi yaitu mulai dari era 20-an. Bukan hanya dari musisi-musisi terkenal saja, ada pula koleksi dari daerah-daerah provinsi Indonesia. Tidak hanya melihat di film-film saja, kamu bisa melihat secara langsung seperti apa sih wujud piringan hitam sesungguhnya. Sembari menyusuri jajaran koleksi karya musik ditemani tembang lawas yang di putar, semakin menambah suasana nostalgia.

Ada lagi bagian menarik  di museum ini. Koleksi majalah musik jadul yang terpampang rapi dengan cover penyanyi-penyanyi top hits di era-nya. Wah, kalau kamu kemari mengajak orang tua atau kakek & nenek, pasti mereka heboh melihat kembali majalah-majalah yang ngetop di era mereka.

Koleksi majalah musik Indonesia dan mancanegara (Sumber foto: kabarmlg)

Koleksi ini merupakan donasi dari musisi-musisi kota Malang maupun masyarakat penikmat musik yang sukarela memberikannya kepada Museum Musik Indonesia untuk dijaga dan diabadikan.  “Koleksi secara keseluruhan baik rekaman, majalah, alat musik, sampai baju, berjumlah sekitar 20.000 koleksi” jelas Pak Hengky, Ketua Museum Musik Indonesia sekaligus pencetus awal lahirnya museum ini yang dahulu bernama Galeri Malang Bernyanyi.

Tak hanya koleksi rekaman, ada juga tape dan turntable klasik yang disusun diatas sebuah lemari kayu. Berbagai poster dan foto musisi-musisi musik dunia terpajang rapi di salah satu dinding, mengingatkan kembali nuansa musik jadul selama berada di museum tersebut. Kamu juga bisa mencari tahu sejarah perjalanan musik Indonesia disini.

Museum ini berawal dari sebuah galeri bernama Galeri Malang Bernyanyi yang berdiri sejak tahun 2009 oleh Komunitas Pecinta kayu Tangan (KAPEKA) bersama para musisi-musisi kota Malang. Selain untuk menikmati koleksi karya musik, tak jarang galeri ini dulu menjadi tempat untuk mengadakan event terutama musik. (dinda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here