Kabarmlg.com – Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil, sepenggal kalimat motivasi yang sering diungkapan oleh orang bijak. Begitulah yang dilakukan oleh Annisa Aurora Kartika, Ulfatu Mahmuda, dan Bagas Rohmatulloh. Mahasiswa dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya yang tergabung dalam “Watter Team”. Mereka berhasil meraih pencapaian gemilang dalam workshop Young Social Entrepreneurs di Singapura dan Shanghai.

Foto: dok. Wattter Team

Ketiga anak muda tersebut mengembangkan produk bisnis. Olahan limbah dari kulit ari kedelai menjadi pupuk dan pakan ternak. Mereka menamakannya sebagai watter. Inovasi yang mereka ciptakan menyasar segmen ibu rumah tangga, sekaligus untuk mengedukasi anak-anak tentang bisnis yang berorientasikan sosial.

Selain produk utama watter, mereka juga menginovasi suatu produk sampingan berupa abon dari tempe. Produk bersahabat bagi para vegetarian. Produk tersebut juga berdasarkan pada orientasi sosial. Mereka membidik Desa Sanan, sebagai sentra industri tempe di Kota Malang. Inovasi yang mereka kembangkan berhasil mendapatkan atensi positif dari sebuah program bernama Young Social Entrepreneurs (YSE).

Foto: dok. Wattter Team

YSE merupakan program workshop (fully funded) yang diadakan untuk memberikan mentoring kepada para pelaku bisnis social entrepreneurs. YSE diselenggarakan pada tanggal 19-23 Maret 2019, di Orchard-Singapura oleh Singapore International Foundation. Diikuti oleh peserta dari berbagai negara seperti Bangladesh, india, Thailand, Singapura, dan Cina.

Indonesia diwakilkan oleh mahasiswa dari UB, ITS, dan IPB. Dari workshop yang diadakan di Singapura tersebut terpilihlah 15 tim. Salah satunya adalah Watter Team UB. Mereka mendapatkan fasilitas mentoring lanjutan, dari mentor internasional di Shanghai-Cina pada 14-20 Juli 2019. Sementara itu pada bulan Oktober nanti menjadi tahap final workshop tersebut.

Foto: dok. Wattter Team

Pada kesempatan Study Visit di Shanghai, Watter Team diwakili oleh Annisa Aurora Kartika dan Ulfatu Mahmuda. Mereka mengunjungi para pelaku social entrepreneur di Cina untuk melakukan studi banding dan bertukaran pikiran dengan CEO di negara tirai bambu tersebut.

“Dengan mengikuti program tersebut, saya bisa memetik nilai filanthropi dari (pelaku social entrepreneur) Cina. Selain itu saya sangat bersyukur sekali dapat membuka wawasan baru mengenai sudut pandang yang belum diketahui,” tutur Annisa.

Foto: dok. Wattter Team

Mahasiswi yang kerap disapa Caca ini, ingin mengajak anak muda untuk peka terhadap sosial dan juga lingkungan. Karena baginya, walau dari langkah kecil sekalipun pada akhirnya dapat menimbulkan banyak manfaat baik itu bagi lingkungan sekitar maupun Indonesia.

Reporter: Denny
Editor: Rizka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here