Kabarmlg.com – Rendahnya minat baca di kalangan masyarakat memang sudah menjadi rahasia umum. Berbagai macam faktor menyebabkan budaya membaca buku semakin menurun dari hari ke hari. Berbanding terbalik dengan minat masyarakat dalam mengakses internet. Ya, semakin mudahnya internet diakses, orang-orang lebih suka mencari segala bentuk informasi melalui internet dibandingkan membaca buku.

Terlebih, ketika sosial media mulai booming sejak beberapa tahun yang lalu. Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar handphone untuk mengetahui informasi terupdate. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah komentar di dunia maya. Padahal, segala yang ada di internet belum tentu kebenarannya. Sering beredarnya hoax menjadi bukti nyata. Sangat disayangkan jika seseorang aktif berkomentar di sana-sini sedangkan kebenaran informasi tersebut juga masih dipertanyakan. Itulah yang melatarbelakangi seorang mahasiswa bernama Dandy untuk membentuk Komunitas Pojok. Mungkin tidak banyak yang mengetahui keberadaan komunitas ini karena memang baru saja dilaunching pada 15 September 2017 lalu.

Sesuai dengan latar belakang terbentuknya, Komunitas Pojok yang bergerak di bidang literasi ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca sehingga kegiatan membaca buku menjadi budaya di kalangan masyarakat, khususnya Malang. Perpustakaan jalanan yang diadakan setiap malam minggu di Taman Kunang-kunang menjadi salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut.

“Jadi, setiap ada anggota baru yang bergabung itu harus menyumbangkan satu buah buku tentang ilmu pengetahuan. Kalau pun dia gak punya buku, bisa menyumbangkan tulisan. Nah buku dari temen-temen ini lah yang kami pinjamkan di perpustakaan jalanan, ada juga beberapa buku yang memang koleksi pribadi.” jelas Dandy yang merupakan mahasiswa rantau asal Makassar. Sangat mudah untuk menjadi bagian dari Komunitas Pojok, bukan? Cukup dengan menyumbangkan satu buah buku atau tulisan berupa opini, esai, resensi buku atau pun film. Tanpa ada batasan usia dan juga tidak berbatas waktu. Jadi kapan pun KangYu bisa bergabung.

Tidak hanya perpustakaan jalanan, Komunitas Pojok juga menyediakan ruang diskusi bagi para anggotanya. Pembahasan dalam diskusi pun bermacam-macam seperti film, filsafat, sastra, agama, politik, budaya, dan lain-lain. Tempat dan waktu diskusi sangat fleksibel menyesuaikan ketersediaan anggota. “Diskusi kami biasanya berjalan tanpa pembicara. Jadi saya biasanya jadi pemantik, jadi yang membuka di awal. Setelah itu saya bebaskan ke anggota untuk menggali pikiran. Kadang kan ada orang-orang yang takut berbicara karena takut salah. Nah, lewat diskusi ini saya berharap masing-masing membuka pikiran. Jadi semuanya aktif, kalau pun tidak paham dengan pembahasan, bisa mendengarkan dulu, lalu bertanya, asalkan tidak diam saja. Diskusinya itu tematik, yang terakhir kemarin kami mendiskusikan tentang isu PKI.” cerita Dandy.

Dandy mengungkapkan salah satu harapannya ke depan bagi Komuitas Pojok yaitu menghasilkan sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari para anggota. Melalui buku tersebut, Komunitas Pojok berkontribusi dengan memberikan sesuatu  yang bisa menjadi dampak positif bagi pembacanya. Namun, sebelum mewujudkan harapan tersebut, Dandy ingin memastikan masing-masing anggota sudah memiliki banyak referensi dengan banyak-banyak membaca buku.

Nah, sekilas tentang Komunitas Pojok ini mungkin membuat KangYu tertarik untuk bergabung. Tak perlu piker panjang. Jika bisa menambah wawasan akan ilmu pengetahuan, kenapa tidak? Ingat, belajar tidak melulu di kelas, kan?

 

Photo : doc. Komunitas Pojok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here