Kabarmlg.com – Mengunjungi suatu kota/kabupaten tidak lengkap bila tak menyinggahi alun-alunnya. Begitu pula saat teman-teman mengunjungi Malang. Malang adalah kota unik dengan adanya dua alun-alun dalam wilayahnya. Yaitu Alun-alun Kotak dan Alun-alun Bunder.

Selain berbeda dari segi penamaan dan fisiologis, Alun-alun kotak maupun bunder memiliki latar yang berbeda secara historis. Alun-alun Kotak atau yang dikenal sebagai Alun-alun Merdeka memiliki segi fisik berupa tanah lapang berbentuk kotak (persegi). Sedangkan Alun-alun Bunder atau dikenal sebagai Alun-alun Tugu, berciri khas taman bunga dan air mancur bunder (lingkaran) yang melingkari tugu di tengahnya.

Seiring waktu, Malang menjadi daerah dengan pertumbuhan pesat. Hingga pada 1 April 1914, daerah ini yang dulunya masih sebagai bagian dari Karesidenan Pasuruan pun berstatus Gementee (Kotamadya), berdasarkan keputusan Staatsblad No. 297, kini diperingati sebagai lahirnya Kota Malang.

Dengan perkembangan yang pesat sebagai daerah yang banyak dimintai koloni sebagai tempat tinggal, pihak Belanda merencanakan Bowplan atau Perencanaan tata kota dengan memisahkan antara pusat kota dengan pusat pemerintahan.

Dalam melaksanakan perencanaan tata kota yang baru. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek kelahiran Belanda 1884, ditunjuk sebagai dalang perencanaan Kota Malang sebagai contoh kota idaman pusat pemerintahan kolonial. Karsten pun menggagas adanya Alun-alun Bunder sebagai pusat pemerintahan yang baru.

Foto: Adam

Disusul dengan pembangunan Kantor Gementee (Walikota) di sisinya. Dan membiarkan Alun-alun Kotak sebagai pusat kegiatan tradisional pribumi. Sehingga dari penjuru Alun-alun Bunder ini, kita dapat melihat adanya bangunan cagar budaya dengan arsitektur kolonial yang masih difungsikan hingga sekarang. Diantaranya, Kantor Walikota, Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan SMA Tugu.

Sesuai Namanya, ditengah lahan bundar ini, dapat kita jumpai sebuah Tugu. Tugu kemerdekaan ini dibangun tepat setahun setelah Indonesia merdeka. Sebagai simbol keberhasilan mengambil alih kekuasaan di Kota Malang dan penjuru yang mengabarkan kemerdekaan Indonesia pada dunia.

Namun tugu ini sempat runtuh saat agresi militer Belanda dalam upaya merebut kembali kekuasaan di Malang. Pembangunannya pun dilanjutkan kembali. Dirampungkan pada 1953 dan diresmikan oleh presiden Soekarno.

Foto: Adam

Waktu terbaik yang disarankan mengunjungi tempat ini adalah antara pagi yang cerah saat udara sedang segarnya. Kita dapat turut bersama warga berolahraga mengitari alun-alun.Selain itu teratai di taman airnya sedang mekar maksimal. Hal ini karena teratai adalah bunga yang peka pada rangsangan cahaya.

Atau, bila kalian menghendaki suasana romantis. Sore hari adalah waktu yang pas untuk berkunjung. Taman bunganya berkerlap-kerlip oleh neon warna-warni. Teratai di taman air mulai menguncup bersama langit senja yang redup. Alun-alun yang awalnya dinamakan Taman JP Coen Plein untuk mengenang sang gubernur jenderal Belanda ini begitu family friendly. Lingkungannya ramah anak dengan ikan berwana-warni di taman airnya. Bangku-bangku taman yang dikelilingi taman bunga indah juga asyik sebagai tempat bercengkrama.

Akses dan akomodasi dari serta kemari pun mudah. Alun-alun Tugu berjarak 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Malang. Dapat pula kita jumpai hotel maupun penginapan di sekitar sini, diantaranya Hotel Tugu, Hotel Sahid Montana, dan Splendid Inn. Bagi nawak-nawak yang membawa kendaraan bermotor, lokasi parkir menempati lahan di depan SMA 4 Malang. Atau dapat juga diakses dengan angkot berkode ABG & ADH.

Foto: Adam

Alun-alun yang kini menjadi landmark dan pusat penjuru kota ini begitu fotogenic dan sayang untuk dilewatkan. Pecinta fotografi tak pernah kehabisan sudut cantik di taman ini. Membidik kombinasi taman, tugu, serta bangunan-bangunan estetik dari segala penjuru mata angin pun akan tetap terlihat anggun. Meski diambil dan dilakoni di tempat yang sama, setiap foto yang diibidik di tempat ini memiliki cerita dan sudut yang tak habis dieksplorasi. Belum ke Malang, kalau belum memiliki kenangan di tempat ini.

Alun-alun Bunder / Alun-alun Tugu

  • Tugu no.1, Kel. Kiduldalem, Kec. Klojen, Kota Malang
  • Waktu kunjungan yang disarankan; pagi/sore hari.
  • Saran aktivitas; Fotografi, Piknik, Wisata Sejarah, dll.

 

Reporter: Bayu Wardhana
Fotografer: Adam Wimaldy
Editor: Rizka Ayu
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here