Kabarmlg.com –  Sudah sejak lama, film berkembang ke arah digital sehingga penggunaan film seluloid pun mulai ditinggalkan. Inilah salah satu faktor yang membuat barang-barang seperti proyektor, pemotong film, poster serta gulungan film milik bapak Hariadi, tak terjamah selama 26 tahun. Beliau adalah seorang pegiat bioskop keliling bernama “Cinedex 14” (Cinema Gedek) yang cukup berjaya pada masanya.

Setelah sekian lama menyimpan barang-berharga tersebut di dalam gudang, bapak Hariadi memutuskan untuk mendirikan “Indonesian Old Cinema Museum Malang” tepat pada 3 April 2017 lalu. Keberadaan museum film analog pertama di Malang ini menarik perhatian sekelompok pecinta film yang tergabung dalam Lensa Mata. Pertemuan dengan bapak Hariadi pun membuat Lensa Mata diamanahkan untuk mengelola museum tersebut.

Beberapa rencana telah disusun oleh Lensa Mata. Harapannya, selain melakukan perawatan pada peralatan yang ada, mereka bisa membuat database film-film dan alat-alat yang ada di museum agar kemudian dapat diakses oleh masyarakat. Tak hanya itu, tetapi juga melakukan pemutaran film yang tentunya menggunakan film seluloid, baik di lokasi museum atau di luar museum.

Kegiatan pemutaran, dengan nama yang sama seperti kepemilikan bapak Hariadi di masa lampau, yakni “Cinedex 14”, menjadi modal awal dalam pengelolaan museum. Tepat pada 13 Juni 2017 pukul 19:30 WIB, pemutaran film berjudul “Bayi Ajaib” (1982) karya sutradara Tindra Rengat akan dilaksanakan di museum yang terletak di RM. Ringin Asri Jl. Sukarno Hatta No. 45, Kota Malang. Film tersebut dirasa cocok dengan nuansa Ramadhan yang identik dengan pengembalian kesadaran dan peningkatan religiusitas umat muslim. Terlebih, masyarakat sekaligus bisa bernostalgia melalui film seluloid tanpa mengeluarkan biaya pada pemutaran ini. Jadi, mari bernostalgia bersama. (dennox)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here