Kabarmlg.com – Masih dalam euphoria Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional, Kita Muda sebagai media online anak muda ingin mengajak anak muda untuk concern pada pentingnya edukasi (literasi) dalam bermedia sosial.

Perkembangan internet dan media sosial yang luar biasa pesat saat ini, menjadi semacam “alarm” bagi penggunanya untuk semakin cerdas dan bijak dalam memanfaatkan media sosial. Atas dasar itulah, Kita Muda untuk pertama kalinya mengadakan diskusi santai seputar budaya etika internet yang baik dalam bermedia sosial.

Diskusi bertajuk “Ki-Talk”, yang berlangsung pada hari Minggu, 21 Mei 2017 pukul 09.00 di Ngalup Co-working Space ini mengangkat tema “Social Media = Killer, Edu + Social Media = Power”. Diungkapkan oleh Agung Susanto, CEO Kita Muda Network sekaligus salah satu pembicara dalam Ki-Talk, tema yang diangkat benar-benar related dengan isu kekinian yang sedang marak terkait dengan media sosial.

“Kenapa sih harus tema ini? Ya, karena kita semua tahu sekarang ini informasi menyebar dengan luas dan cepat. Informasi di media online itu ada yang baik dan ada yang buruk—hoax. Nah, tanpa edukasi dan literasi bermedia sosial yang baik, media sosial bisa jadi boomerang, bisa jadi killer,” ucapnya.

Ki-Talk yang mendiskusikan tema serius tapi dikemas dengan ringan dan santai ini juga menghadirkan 4 pembicara inspiratif lainnya.

Mereka adalah role model bagi anak muda masa kini, diantaranya Duta Pendidikan Kota Malang 2016 Rolanda Noverdo, pemenang Putra Putri Batik Nusantara 2016 Hendita Khairina, Duta Budaya dan Museum Kota Malang 2015 Favorit Rizky B. Cahyono, dan ketua komunitas peduli pendidikan Enam Dua Project Dina Rachmatika.

Sebagai pembuka diskusi, Rolanda Noverdo menjelaskan tiga aspek penting dalam bermedia sosial dan menggunakan internet. “Pertama adalah penggunanya sebagai output. Kalau kasih informasi atau share sesuatu harus bisa dipertanggungjawabkan. Kedua adalah input alias informasi yang datang ke kita. Jangan telan mentah-mentah tapi diselidiki dan harus difilter dulu info yang kamu dapat.”

“Terakhir, masalah manajemennya. Dari pagi bangun tidur saja nih kita sudah sibuk lihat HP, cek atau update media sosial. Ini nih alasan kenapa harus ada kontrol media sosial dari penggunanya. Pengguna media sosial adalah the man behind the gun, media sosial bakal positif kalau kita sebagai pengguna memanfaatkan dengan baik,” kata Rolanda.

Berbeda dengan Rolanda yang menekankan etika bermedia sosial serta menyinggung sanksi penyebar hoax dalam UU ITE, Dina Rachmatika mencoba sharing  pengalaman positif bermedia sosial saat menggalang dana untuk proyek sosial Enam Dua Project.

“Selain berfokus pada pendidikan (pengajaran), Enam Dua Project juga peduli pada dana pendidikan. Media sosial sangat membantu dalam proses penggalangan dana. Kami pernah melakukan penggalangan dana melalui Instagram, responnya sungguh positif,” ujar Dina.

Tak mau kalah dengan Dina, Rizky B. Cahyono yang akrab disapa Kiki mengajak anak muda untuk menggunakan media sosial secara positif. Sebagai Duta Budaya dan Museum, Kiki mengajak anak muda untuk mempromosikan dan melestarikan budaya melalui media sosial.

“Pakai media sosial jangan sampai bikin kamu lupa budaya, enggak perlu lah tulis caption pakai bahasa Inggris atau bahasa gaul biar dibilang hits. Kalau lagi main ke museum atau tempat wisata misalnya, sisipkan edukasi dan budaya dalam postingan kamu di Instagram. Jangan malah ngawur dan enggak nyambung caption-nya. Kamu ngetag, nulis caption yang baik tuh bisa bantu promosi budaya, lho,” ucap Kiki.

Sejalan dengan Kiki, Hendita Khairina juga menegaskan pentingnya media sosial untuk menyebarkan pesan positif

“Banyak sekali orang yang menyalahgunakan media sosial. Misal kasus mahasiswa yang ketiduran di transportasi umum lalu direkam orang asing dan video ‘seksi’-nya disebar di media sosial. Si cewek enggak tahu apa-apa dan sekali di-share di media sosial, postingan enggak bisa hilang karena pasti sudah ada yang nge-save.

“Karena itu, gunakan media sosial untuk membagi hal positif. Kamu punya power untuk mempengaruhi atau menginspirasi orang lain. Berapa pun followers-mu di media sosial, mereka pasti lihat apa yang kamu posting. Daripada posting yang enggak baik, mending dipakai untuk menyebarkan pesan positif yang bisa bermanfaat enggak hanya buat kamu tapi followers-mu juga,” ujar Hendita.

Diskusi santai yang berlangsung selama dua jam ini kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang seru. Peserta yang tadinya hikmat menyerap materi dari kelima pembicara mendadak antusias melemparkan pertanyaan mulai dari yang kritis hingga lucu.

Acara Ki-Talk diakhiri dengan pembagian goodie bag dari Aremafood.com untuk pembicara dan peserta yang bertanya. Melihat antusiasme dan feedback positif dari peserta, Chief Marketing Officer Kita Muda Network Mukti Prabowo berencana untuk mengadakan Ki-Talk secara rutin.

“Kedepannya Ki-Talk akan diadakan lagi dan tema yang diangkat masih seputar media online dan penulisan kreatif. Kami puas dan enggak menyangka dengan antusiasme peserta hari ini, karena diadakannya hari Minggu.”

Ki-Talk tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan dari Aremafood.com, My Bite, Piknik Yuk, dan Delapan. Serta Event Malang, Malang Channel, Info Kampus, Kabar Malang, AM, dan Mahasiswa Malang sebagai media partner.

“Saya mewakili Kita Muda Network mengucapkan terima kasih pada pihak yang sudah mendukung dan semoga tim ini bisa kembali menginspirasi di Ki-Talk selanjutnya,” ucap Mukti.

 

Penulis :Galuh Fhatim AZ

Source foto : Kita Muda/My Bite

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here