Mari kita merenung.

Sudah lama kita menyaksikan hidup, dalam gambar yang kian bergerak, pada naskah yang kian tercatat. Rupanya film itu hidup, ia bernafas. Ia tumbuh dalam jiwa seni.

Apakah kita sudah merawatnya? Atau telah lama membunuhnya?

Setelah pengambilan gambar pertama film asli Indonesia pada 30 Maret 1950 yang kini ditetapkan sebagai Hari Film Nasional (HFN), perfilman nasional telah mengalami pasang surut. Dimulai dari film sederhana yang dibintangi oleh segelintir aktor yang itu-itu saja, film yang dicekal karna diangkat dari kisah nyata seorang buruh bernama Marsinah, hingga pada tahap ide cerita yang mulai beragam sesuai perkembangan zaman saat ini seperti Buka’an 8 dan Hang Out. Pada tahap ini, perfilman nasional mulai meningkat secara kuantitas. Lalu, bagaimana kualitas perfilman dan antusias penonton hari ini?

Gambar : Google Images

Film dewasa ini sudah beralih fungsi menjadi konsumsi seni. Apa yang diciptakan oleh perfilman tanah air harusnya sudah bisa jadi lokomotif industri kreatif. Memang, Indonesia memiliki lebih dari 253 juta jiwa dimana potensi kreator seharusnya lebih banyak sehingga mampu menciptakan film-film yang berkualitas. Sayangnya, wadah bagi movie creator kita sendiri masih belum memadai dan akhirnya kualitas film kita masih bergerak lambat dengan pencipta yang masih itu-itu saja. Sebut saja Riri Riza, Hanung Bramantyo, Joko Anwar, dan kawan-kawan yang masih belum tergantikan.

Disamping itu, antusias penonton juga masih belum meningkat drastis. Kepercayaan penonton yang pernah hilang karna masa surut perfilman tidak serta merta kembali. Bagaimana Hollywood masuk sebagai kebutuhan skunder melebihi film nasional yang sempat dipandang sebelah mata, harus menjadi motivasi besar untuk kampanye nasional perfilman tanah air.

Gambar : instagram @mafifest

Pemerintah kini mulai bergerak untuk meningkatkan sumber daya manusia di bidang perfilman. Disertai penyaringan film yang masuk dan kampanye untuk mengembalikan animo masyarakat terhadap film tanah air. Screening film di bulan Maret ini juga tanpa kita sadari merupakan bentuk untuk memasyarakatkan film tanah air. Komunitas-komunitas sudah menjamur menjadi wadah pendidikan informal film. Jadi, sejak HFN ini mari kita buka mata dan dukung pergerakan perfilman nasional bersama. Film Indonesia? Siapa takut!

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here