Kabarmlg.com – Dalam rangka memberikan edukasi mengenai kesehatan mental, Mahasiswa Public Relation (PR) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam Shortcut PR bekerja sama dengan Hayunanto Medical Center (HMC) menggelar talkshow bertajuk “Teman Bicara” yang ditujukan kepada para peserta dan komunitas-komunitas kesehatan mental.

Menurut Rizka Alya Putri selaku programmer dan penyambung nadi antara Shortcut PR dan HMC mengatakan bahwa Teman Bicara merupakan salah satu bentuk sinergi positif dari HMC untuk memperkenalkan skizofrenia melalui talkshow dan social movement.

“Skizofrenia dipilih sebagai pembahasan utama karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit tersebut dan juga kurang mendapat perhatian di masyarakat”

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya tenaga ahli dan fasilitas medis di Indonesia. Di negara dengan populasi terbesar ke-3 di dunia, jumlah psiakter di Indonesia tidak sampai 800 orang, dengan psikolog klinis sekitar 400 orang.

Kurangnya sosialisasi dan fasilitas membuat kasus pemasungan semakin tinggi. Sampai tahun 2013, terdapat 56 ribu pengidap skizofrenia yang masih dipasung oleh keluarganya sendiri.

Kegiatan yang mengusung konsep talkshow edukatif ini bertempat di Ngalup Coworking Space, yang berada di Jalan Sudimoro Malang. Inisiatif pelaksanaan acara Teman Bicara ini sejalan dengan kebutuhan untuk memberikan edukasi mengenai Skizofrenia kepada para audiens. Sesuai dengan komitmen Hayunanto Medical Center, berkeinginan untuk mengajak audiens merasakan pengalaman berkonsultasi ala supportive group yang didampingi oleh Psikiater dr. Frilya Rachma Putri Sp.KJ dan Wildan Hakim sebagai terapis profesional sekaligus humas dan pemasaran HMC.

Antusias peserta Teman Bicara (Foto : Arul)

Diharapkan kegiatan ini nantinya akan bisa berdampak positif kepada masyarakat dan dapat menghasilkan sebuah komunitas Teman Bicara.

“Hal ini berdasarkan isu sosial yang sering terjadi di sekitar kita, bahwa penderita gangguan kesehatan mental sering kali diabaikan dan dianggap bahwa mereka adalah orang gila yang tidak waras padahal sebenarnya mereka adalah orang – orang yang butuh perhatian khusus dan butuh didengarkan”, jelas Wildan Hakim.

Oleh karena itu komunitas Teman bicara akan bergerak sebagai Social Supportive Group di mana komunitas ini akan memfasilitasi siapa saja yang ingin berbagi cerita ke orang yang nantinya bisa di ajak bertukar cerita. Selain itu juga, komunitas Teman Bicara bisa diharapkan menjadi komunitas untuk mendampingi mereka yang memiliki gangguan kesehatan jiwa (mental health disorder).

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here