Istirahatlah kata-kata

Janganlah menyembur-nyembur

Orang-orang bisu

Tidurlah kata-kata

Kita bangkit nanti

Menghimpun tuntutan-tuntutan

Yang miskin papa dan dihancurkan

 

Lebih dari yang kita kira, kata-kata memiliki kekuatan yang besar. Melalui film Istirahatlah Kata-Kata, Yosep Anggi Noen mengantarkan kita pada sosok Wiji Thukul yang mampu menggentarkan nyali Orde Baru dengan  rangkaian kata dalam puisi-puisinya.  Meskipun minim dialog, film ini justru mampu menyampaikan kekuatan setiap kata-kata atau dialog yang muncul melalui pendekatannnya yang sunyi.

Sebelum tayang di bioskop-bioskop tanah air, ada fakta-fakta menarik yang telah dicapai di film ini. Penasaran fakta apa saja dibalik Istirahatlah Kata-Kata yang baru nobar di Malang ini? Berikut ulasannya.

  1. Tayang perdana di Locarno International Film Festival, Swiss.

Film ini terpilih sebagai official selection dalam Festival del film Locarno, Swiss yang ke-69 pada Juli 2016 lalu. Film yang dengan nama lain berjudul Solo, Solitude ini pun telah diputar dan memenangkan sejumlah penghargaan di beberapa festival film internasional seperti Busan International Film Festival, International Film  Festival Rotterdam dan Hamburg Film Festival.

Gambar : Google Images

2. Mendapat penghargaan baik di luar maupun di dalam negeri.

Tidak hanya pencapaian pemutaran di festival-festival film internasional, di dalam negeri sendiri  film ini mendapat beberapa penghargaan. Salah satunya ialah penghargaan tertinggi Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2016 yakni Golden Hanoman Award yang dipilih oleh juri-juri JAFF yakni Kim Jong Kwan, Riri Riza, dan Eko Nugroho. Selain itu, film ini berhasil memenangkan kategori penghargaan utama Apresiasi Film Panjang Non Bioskop pada penghargaan Apresiasi Film Indonesia (AFI) Oktober 2016 lalu serta beberapa penghargaan lainnya.

Gambar: Dokumentasi Penulis Pemutaran Istirahatlah Kata-Kata di JAFF sekaligus Q&A bersama sutradaranya yakni Yosep Anggi Noen (tengah).

 3. Istirahatlah Kata-Kata merupakan film yang didedikasikan kepada generasi muda dengan penggambaran kekuatan puisi-puisi Wiji Thukul pada masanya.

Dilansir melalui akun instagram @istirahatlahkatakata pada Januari lalu, Yosep Anggi Noen mengaku bahwa ia tidak begitu familiar dengan sosok Wiji Thukul ketimbang Taufik Ismali, WS Rendra, atau Chairil Anwar. Ia merasa karya-karya Wiji tidak menyingkap hal spektakuler seperti yang diagungkan puisi karya tokoh lainnya. Namun hal tersebutlah yang membuat ia berpikir bahwa mengangkat Wiji Thukul dalam film sangat penting untuk mengenalkan pada generasi muda bahwa puisi tidak selalu memuja senja, gerimis, atau cinta melainkan situasi sosial disekitar yang juga perlu diperhatikan. Penyajian puisi Wiji lugas sekaligus lugu sehingga efektif mencatat jaman dan mengoreksi kekuasaan serta demokrasi pada masa itu.

4. Naskah film ditulis sendiri oleh sutradara melalui riset panjang

Nama Wiji Thukul tidaklah asing bagi kalangan aktivis. Selama rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto, Wiji Thukul yang merupakan penyair kerap menyuarakan ketertindasan lewat puisi dan kata-katanya.

Untuk menyorot titik balik kehidupan Wiji kala ia mengembara ke Pontianak selama 8 bulan, Anggi kemudian melakukan riset yang cukup panjang. Anggi pergi menemui para sahabat, musuh ideology, teman satu organisasi, menyusuri pedalaman Kalimantan, serta menyambangi keluarga dekat sang aktivis. Untuk melengkapi risetnya, Anggi bahkan mengumpulkan sejarah tertulis yang ada di Ohio State University dan Belanda. Dalam film ini akhirnya Anggi mampu menghadirkan puisi-puisi Wiji Thukul, termasuk tulisan dan wawancaranya, bahkan wawancara dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang saat Wiji mengamen disana.

Gambar: Poster film Istirahatlah Kata-Kata yang tayang di bioskop.

5. Musikalisasi puisi Bunga dan Tembok diakhir film oleh Merah Bercerita, anak dari Wiji Thukul

Merah bercerita merupakan nama panggung dari salah satu putra Wiji Thukul yakni Fajar Merah. Selain membantu dalam segi musik, Anggi juga menjadikan Fajar sebagai panduan bagi aktor dalam menghidupkan karakter Wiji Thukul.

Demikian ulasan dibalik Istirahatlah Kata-Kata versi KabaMlg. Film yang menggambarkan salah satu sosok aktivis demokrasi ini mendapat berbagai apresiasi serta dukungan dari berbagai pihak. Kita sebagai generasi muda patut tahu perjuangan-perjuangan yang tidak tertulis dalam buku pelajaran sejarah. Jadi, ayo cari tahu dan jangan lupa nonton di bioskop terdekat, rek!

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here